Mekanisme nyeri
Nyeri berdasarkan mekanismenya melibatkan
persepsi dan respon terhadap nyeri tersebut. Mekanisme timbulnya nyeri melibatkan
empat proses, yaitu: tranduksi/ transduction, transmisi/transmission,
modulasi/modulation, dan persepsi/ perception (McGuire &
Sheilder, 1993;Turk & Flor, 1999). Keempat proses tersebut akan dijelaskan
sebagai berikut:
Transduksi/Transduction
Transduksi adalah adalah proses dari
stimulasi nyeri dikonfersi kebentuk yang dapat diakses oleh otak (Turk &
Flor, 1999). Proses transduksi dimulai ketika nociceptor yaitu reseptor
yang berfungsi untuk menerima rangsang nyeri teraktivasi. Aktivasi reseptor ini
(nociceptors) merupakan sebagai bentuk respon terhadap stimulus yang
datang seperti kerusakan jaringan.
Transmisi/Transmission
Transmisi adalah serangkaian kejadian-kejadian
neural yang membawa impuls listrik melalui sistem saraf ke area otak.
Proses transmisi melibatkan saraf aferen yang terbentuk dari serat saraf berdiameter
kecil ke sedang serta yang berdiameter besar (Davis, 2003). Saraf aferen akan
ber axon pada dorsal horn di spinalis. Selanjutnya transmisi ini dilanjutkan
melalui sistem contralateral spinalthalamic melalui ventral
lateral dari thalamus menuju cortex serebral.
Modulasi/Modulation
Proses modulasi mengacu kepada aktivitas
neural dalam upaya mengontrol jalur transmisi nociceptor tersebut
(Turk & Flor, 1999). Proses modulasi melibatkan system neural yang
komplek. Ketika impuls nyeri sampai di pusat saraf, transmisi impuls nyeri ini
akan dikontrol oleh system saraf pusat dan mentransmisikan impuls nyeri ini
kebagian lain dari system saraf
seperti bagian cortex.
Selanjutnya impuls nyeri ini akan ditransmisikan melalui sarafsaraf
descend ke tulang
belakang untuk memodulasi efektor.
Persepsi/Perception
Persepsi adalah proses yang subjective
(Turk & Flor, 1999). Proses persepsi ini tidak hanya berkaitan dengan proses
fisiologis atau proses anatomis saja (McGuire & Sheildler, 1993), akan
tetapi juga meliputi cognition (pengenalan) dan memory (mengingat)
(Davis, 2003). Oleh
karena itu, faktor psikologis,
emosional, dan berhavioral (perilaku) juga muncul sebagai respon dalam
mempersepsikan pengalaman nyeri tersebut. Proses persepsi ini jugalah yang
menjadikan
nyeri tersebut suatu fenomena yang melibatkan
multidimensional.
Turk, D. C. & Flor, H. (1999).
Chronic pain: A biobehavioral perspective. In R. J. Gatchel & D. C. Turk
(Ed.). Psychosocial factors in pain (pp. 18-34). New York: The Guilford
Press
McGuire, D. B & Sheildler, V. R.
(1993). Pain. In S. L. Groen, M. H. Fragge, M. Goodman, and C. H. Yarbro (Edt.).
Cancer nursing: Principles and practice (3rd Ed.) (pp. 499-556). Boston,
NA: Jones and Bartlett Publisher.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar